Terumbu Karang
Terumbu karang adalah fondasi kehidupan laut—rumah bagi ribuan spesies dan penopang kesejahteraan masyarakat pesisir. Menyadari perannya yang vital, Yayasan KEHATI bersama para mitra di lapangan menjalankan program konservasi dan rehabilitasi terumbu karang di dua wilayah: Pulau Sangiang di Banten dan Pulau Barangcaddi di Makassar.
Pemulihan terumbu karang dilakukan melalui pendekatan ilmiah, teknik rehabilitasi yang tepat, serta dukungan berbagai pihak. Perlahan upaya pemulihan mulai menunjukkan hasil nyata. Karang kembali tumbuh, keanekaragaman biota laut meningkat, dan kawasan pesisir perlahan menemukan kembali keseimbangannya.
Pulau Sangiang
Terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra, Pulau Sangiang merupakan bagian dari Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Pulau ini berjarak sekitar 10 kilometer dari Pantai Anyer dan memiliki status sebagai Taman Wisata Alam (TWA) yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat di bawah Kementerian Kehutanan.
Namun, di balik keindahannya, ekosistem terumbu karang Pulau Sangiang sempat berada dalam kondisi tertekan. Tingginya tingkat kematian dan patahan karang (rubble) menjadi indikasi nyata kerusakan, yang diduga disebabkan oleh praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, sedimentasi, pembuangan jangkar kapal, serta dominasi karang lunak yang menandakan rendahnya keragaman jenis karang. Aktivitas industri, reklamasi, dan pembangunan di kawasan pesisir Cilegon turut memberi tekanan tambahan bagi keseimbangan ekosistem laut di sekitar pulauini.
Untuk memulihkan kondisi tersebut, program rehabilitasi terumbu karang Pulau Sangiang mulai dijalankan sejak tahun 2016 dengan dukungan pendanaan dari PT Asahimas Chemical (ASC). Pada tahap terbaru, kegiatan ini dijalankan bersama Yayasan Metrik Biru Indonesia (Blue Metrics Indonesia).
Hasil Rehabilitasi dan Monitoring
Pemantauan yang dilakukan sejak 2016 menunjukkan hasil menggembirakan. Tingkat kelangsungan hidup bibit karang (survival rate) mencapai 50%, menandakan keberhasilan teknik transplantasi menggunakan modul berbahan PVC (Polyvinyl chloride). Metode ini terbukti efektif dalam menyediakan ruang tumbuh bagi koloni baru, terutama untuk karang keras dari genus Acropora yang memiliki bentuk pertumbuhan bercabang.
Monitoring terbaru pada 11–13 Juni 2025 dilakukan di dua lokasi, yaitu Legon Waru dan Legon Bajo, dengan fokus pada pengamatan ekologi, penanaman, dan pencatatan jumlah bibit karang. Hasilnya menunjukkan perkembangan positif, yaitu:
Dari 83 modul transplantasi yang diamati, 66 modul telah tertutup karang hidup dengan tingkat tutupan stabil antara 40–70%, meski 17 modul mengalami kerusakan.
Indeks keanekaragaman, kemerataan, dan dominansi biota laut menunjukkan nilai yang konstan tiap tahun, menandakan struktur komunitas terumbu karang tetap terjaga.
Ditemukan lebih dari 220 koloni karang keras alami dari 24 genus yang menempel di modul PVC, menandakan proses suksesi dan resiliensi alami habitat terumbu karang.
Sebanyak 24 genus karang keras berhasil tumbuh baik di modul maupun habitat alami, antara lain Porites, Favites, Montipora, Acropora, hingga Pocillopora, dengan Porites menjadi genus paling dominan.
Hingga tahun 2025, telah dilakukan penanaman total 18 jenis karang keras dengan tambahan 250 bibit baru pada periode rehabilitasi terbaru.
Penggunaan terumbu buatan berbentuk piramida juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan populasi ikan. Di kawasan rehabilitasi ditemukan berbagai jenis ikan konsumsi bernilai ekonomi seperti ikan kerapu (Serranidae), kakap (Lutjanidae), baronang (Siganidae), dan ekor kuning (Caesionidae). Sementara itu, ikan dari famili Pomacentridae paling sering dijumpai, menandakan keseimbangan komunitas ikan karang yang sehat.
Upaya rehabilitasi di Pulau Sangiang bukan sekadar menanam karang baru, tetapi juga mengembalikan fungsi ekologis laut yang menjadi rumah bagi ribuan biota. Melalui kolaborasi antara sektor swasta, lembaga konservasi, dan masyarakat ilmiah, kawasan ini kini menunjukkan tanda-tanda pemulihan alami yang menggembirakan.
Dengan keberlanjutan kegiatan hingga 2025, Pulau Sangiang menjadi contoh nyata bagaimana rehabilitasi berbasis sains dan kemitraan mampu mengembalikan kehidupan di bawah laut menuju kondisi yang lebih lestari dan tangguh. (Mitra : PT Asahimas Chemical/ASC)
Pulau Barrang Caddi
Pulau Barrang Caddi di Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar, menjadi contoh upaya berkelanjutan KEHATI bersama mitra di lapangan untuk menjaga terumbu karang di bagian timur Indonesia. Berdasarkan hasil survei tahun 2023, tutupan karang hidup di wilayah ini berkisar antara 11–32 persen, tergolong dalam kategori sedang.
Namun, tanda-tanda degradasi terumbu karang masih terlihat, ditandai dengan banyaknya pecahan karang mati (rubble) dan pertumbuhan alga pada karang mati (Dead Coral Algae). Sejumlah penelitian bahkan mencatat adanya kerusakan akibat praktik pengeboman di beberapa pulau sekitar Makassar.
Menjawab tantangan tersebut, KEHATI bersama mitra lokal melanjutkan inisiatif konservasi yang telah dimulai sejak 2023 melalui kegiatan Coral Garden–Coral Stock Center di Kepulauan Spermonde. Program ini menggunakan metode vertikal untuk pembibitan dan pembelajaran restorasi karang, sehingga kegiatan transplantasi dan rehabilitasi terumbu dapat dilakukan tanpa merusak karang alami.
Selain menjadi pusat edukasi dan penelitian, kawasan ini juga dikembangkan menjadi titik penyelaman ilmiah dan rekreasional yang dikelola oleh kelompok pemuda setempat. Pelaksanaan kegiatan hibah di Pulau Barrang Caddi dilakukan oleh Yayasan Kitaji Pinisi (YKP), dengan dukungan KEHATI, selama periode 2 September 2024 hingga 2 Juni 2025.
Mitra : Yayasan Metrik Biru Indonesia (Blue Metrics Indonesia).