
Kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) di Kampung Sukagalih, Desa Cipeuteuy, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyimpan potensi ekowisata berbasis masyarakat yang kuat. Tak sekadar menyuguhkan keasrian alam dan jalur trekking, kawasan ini tengah disiapkan menjadi pusat edukasi lingkungan dan konservasi, termasuk pengenalan satwa endemik Owa Jawa.
Inisiatif pengembangan ekowisata ini digerakkan oleh warga lokal—khususnya kelompok perempuan dan generasi muda—dengan dukungan dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Pemberdayaan masyarakat ini mencakup penataan fasilitas wisata, diversifikasi produk olahan hasil hutan bukan kayu, hingga penguatan kapasitas pengelolaan ruang belajar lingkungan.
Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI, Christian Natalie, menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan ekowisata. Sebab, warga lokal adalah pihak yang paling memahami dinamika kawasan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem sekitar.
"Yang ingin dibangun bukan sekadar tempat untuk dikunjungi, melainkan kegiatan wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan tetap menjaga alam. Berbasis konservasi, bukan eksploitasi. Peran anak muda dan kelompok perempuan sangat penting agar mereka ikut menentukan serta mengembangkan potensi tersebut," ujar Christian, beberapa waktu lalu.
Penataan Fasilitas dan Olahan Lokal
Pengembangan infrastruktur wisata dasar mulai dibenahi secara bertahap. Kelompok Tani Hutan (KTH) Kopel, misalnya, memfasilitasi pembangunan dan perbaikan sarana sanitasi (MCK) serta instalasi jaringan air bersih di area berkemah (camping ground).

Sementara itu, pemetaan jalur trekking digagas oleh Komunitas "Sawala Leuweung". Sepanjang jalur tersebut, diidentifikasi enam titik strategis untuk pemasangan papan informasi interpretasi alam. Papan ini bakal memandu wisatawan memahami keanekaragaman hayati dan pola interaksi warga dengan hutan.
Sektor ekonomi kreatif warga juga menggeliat. Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati mulai mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk bernilai tambah, seperti manisan terong panjang dan dodol waluh (labu kuning). Produk uji coba ini mulai dijajakan di warung, kedai kopi lokal, hingga ajang Festival Kopi Kabupaten Sukabumi.

Untuk mendukung keberlanjutan sektor agroforestri, anggota KTH, KWT, dan Petani Milenial dibekali pelatihan teknik entres dan sambung pucuk guna memperbanyak tanaman secara vegetatif serta menguatkan pembibitan mandiri.
Anak muda di Sukagalih pun mengambil peran sentral. Melalui Komunitas Sawala Leuweung, mereka mendirikan ruang diskusi isu sosial, ekonomi, dan lingkungan, serta memproduksi gelar wicara (podcast) bertajuk Nyawala. Mereka juga melakukan studi banding ke beberapa destinasi ekowisata berbasis masyarakat, seperti Kampung Wisata Cinangneng, Model Kampung Konservasi (MKK) Cisangku, dan Kampung Ekowisata Citalahab untuk mempelajari tata kelola homestay dan pemasaran produk.
Pintu Masuk Konservasi Owa Jawa
Nilai tambah ekowisata Sukagalih kian kuat dengan hadirnya potensi edukasi Owa Jawa (Hylobates moloch). Primata endemik Pulau Jawa ini berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Di Kecamatan Kabandungan, Yayasan KEHATI mendukung upaya konservasi Owa Jawa melalui kegiatan pemetaan sebaran, pendugaan populasi, dan kampanye edukasi. Hasil pemetaan awal menemukan sedikitnya 39 kelompok Owa Jawa yang tersebar di delapan titik pengamatan di Kecamatan Kabandungan, walau angka ini masih dalam tahap analisis data lanjutan.
Keberadaan Owa Jawa di sekitar kawasan TNGHS menjadi materi penting bagi wisatawan untuk memahami pentingnya keterkaitan antara tutupan hutan dan kelangsungan hidup satwa liar.
"Informasi pemetaan Owa Jawa bisa memperkaya edukasi ekowisata. Pengunjung dapat mengenal satwa endemik yang hidup di sekitar mereka dan memahami pentingnya menjaga habitatnya. Dengan begitu, wisata menjadi sarana menumbuhkan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati," tutur Christian.
Meski masih memerlukan penguatan kapasitas pengelola serta kemitraan lintas sektor yang berkelanjutan, langkah awal di Sukagalih membuktikan bahwa wisata alam dapat berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem dan pemberdayaan ekonomi warga lokal.
© 2025 All Right Reserved